Droupadi bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) atas dukungan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, LLDIKTI III, dan Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial menyelenggarakan diskusi publik virtual dengan tajuk “Mencari #RuangAman di Kampus”.

Diskusi ini adalah bagian dari penelitian dasar yang diketuai oleh Dr. Khaerul Umam Noer, M.Si., Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMJ, dengan tajuk “Tatakelola Kolaboratif dalam Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi (Kajian implementasi Permendikbudristek 30/21 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi di delapan provinsi di Indonesia)” yang didukung oleh Dikti mengenai tata kelola kolaboratif dalam pencegahan dan kekerasan seksual di perguruan tinggi di Indonesia.

Kegiatan penelitian kolaboratif ini dilakukan antara Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Bengkulu, dan Universitas Lambung Mangkurat.

Diskusi ini dihadiri oleh 178 peserta yang berasal dari berbagai kampus di Indonesia. Menurut Umam, selaku ketua tim peneliti menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menggali informasi mengenai kebijakan di berbagai universitas, dan dari pemetaan ini dapat menjadi baseline dari praktik baik yang dilakukan untuk melakukan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di pendidikan tinggi

Turut hadir beberapa narasumber pada diskusi ini yakni diantaranya Prof. Dra. Aquarini Priyatna Prabasmoro, MA, M.Hum, Ph.D, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran (FIB UNPAD), Dr. Lidwina Inge Nurtjahyo, S.H., M.Si., dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH UI), Varinia Pura Damaiyanti S.Sos., M.Si., Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lambung Mangkurat (FISIP ULM), dan Dr. Khaerul Umm Noer, M.Si, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (FISIP UMJ) yang bertindak sebagai moderator.

Dalam diskusi, Prof. Aquarini mencatat bahwa ruang aman itu tidak boleh dicari, melainkan harus dibuat. Sebab ada banyak kasus kekerasan seksual yang membutuhkan penanganan yang khusus dan cermat. Untuk merespon hal tersebut, FIB Unpad meluncurkan “Program Halo Ibu Dekan”, di mana sivitas akademika FIB dapat langsung melaporkan kasus kekerasan seksual yang terjadi ke hotline tersebut. Di level universitas, Unpad memiliki pusat riset gender yang menjadi ruang aman di Unpad. Ada beberapa kasus yang muncul, baik melibatkan mahasiswa atau dosen, dan Unpad memiliki regulasi terkait kekerasan seksual.

Dr. Inge yang merupakan salah satu penulis buku saku pelaporan kekerasan seksual di UI menceritakan bagaimana UI mencoba melakukan upaya penanganan kasus kekerasan secara internal. Dalam diskusi disampaikan bahwa penanganan kasus kekerasan seksual sangat sulit dilakukan sebab tidak hanya dibutuhkan political will dari pihak kampus, namun juga kesadaran dari mahasiswa dan tendik (tenaga kependidikan).

Inge juga menitikberatkan pada aspek hukum, di mana korban dapat melaporkan kekerasan di level kampus, sambil secara paralel melaporkan kasus tersebut di kepolisian. Kekhawatiran yang umum terjadi adalah pelapor mencabut laporannya dengan alasan kekeluargaan.

Tekanan yang sama disampaikan oleh Arin yang menceritakan bagaimana kasus kekerasan seksual terjadi di kampus Lambung Mangkurat, yang sayangnya baru diketahui oleh pihak kampus setelah terjadi keputusan hukum di pengadilan. Hal ini mendorong Univesitas Lambung Mangkurat untuk membentuk tim satuan tugas untuk melakukan pencegahan dan penanganan kasus kekerasan seksual.

Dari paparan narasumber disimpulkan bahwa perlu penyamaan persepsi antara dosen, tendik, mahasiswa serta pengelola fakultas ataupun universitas. Selain itu diharapkan juga bagi pimpinan dijajaran struktural pemangku kebijakan harus punya perspektif pro korban dan perspektif gender yang baik. Dinyatakan juga bahwa menyelesaikan permasalahan kekerasan seksual yang terjadi di perguruan tinggi ini memerlukan kolaborasi dan integrasi dari berbagai lini misalnya melalui kurikulum, dosen, mahasiswa dan tendik harus sama-sama punya kesadaran pentingnya pencegahan dan penanganan kekerasan seksual tersebut. Diskusi publik ini adalah bagian awal dari rangkaian diskusi yang akan dilakukan terkait membangun ruang aman di kampus bagi semua sivitas akademika. Diskusi berikutnya masih difokuskan pada upaya penanganan yang dilakukan di kampus-kampus lain di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.