Gender Studies Forum 2022 adalah forum diskusi dan berbagi. Tema Gender Studies Forum tahun ini adalah “Investigating Sexual Violence in Indonesia’s Higher Education: Intersections and Trajectories”.

Forum ini dimulai dengan satu fakta mendasar: angka kekerasan seksual di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Catatan Tahunan Komnas Perempuan (2021) mencatat dalam kurun waktu 12 tahun, kekerasan seksual meningkat sebanyak 792%. Kekerasan seksual dapat terjadi di berbagai tempat, salah satunya Perguruan Tinggi. Kekerasan seksual dapat terjadi di mana saja. baik pada ruang privat maupun publik. Kekerasan seksual yang terjadi di kampus bentuknya beragam, meliputi perilaku fisik maupun non-fisik (termasuk juga pelecehan seksual luar dan dalam jaringan), korbannya tidak hanya perempuan, namun juga laki-laki maupun orang dengan disabilitas. Dengan demikian, dalam rangka menciptakan kehidupan pendidikan tinggi yang aman bagi semua orang untuk melaksanakan kegiatannya, perlu ada tindakan untuk menciptakan ruang yang aman tersebut.

Terciptanya kondisi aman tidak hanya ditentukan oleh persoalan fasilitas, namun juga kondisi di mana sivitas merasa terlindungi pada saat melakukan kegiatan belajar mengajar maupun ekstrakurikuler. Salah satunya adalah jaminan rasa aman tidak mengalami kekerasan seksual. Jaminan rasa aman itu perlu berbentuk semacam peraturan khusus, yang berbeda dari peraturan administratif lainnya.

Meski statistik mengenai angka kasus kekerasan seksual di pendidikan tinggi tidak tersedia, namun pemberitaan di media massa menunjukkan bahwa kasus kekerasan seksual di pendidikan tinggi masih terus bermunculan. Berdasarkan survey terhadap 76 pengelola pendidikan tinggi di Indonesia, 75% responden menyatakan di kampusnya terjadi kasus kekerasan seksual. Hasil survei tersebut mengkonfirmasi pengamatan dan pemberitaan-pemberitaan tentang adanya kasus kekerasan seksual di pendidikan tinggi. Kasus-kasus kekerasan seksual sangat sulit untuk diketahui dan diungkap.

Keberadaan aturan dan kebijakan terkait kekerasan seksual di pendidikan tinggi semakin krusial, sebab angka kekerasan seksual semakin meningkat setiap tahunnya. Laporan dari Tirto, Vice Indonesia dan the Jakarta Post misalnya, mencatat 174 laporan kekerasan seksual yang tersebar di 79 PT di Indonesia, dari total tersebut, tercatat 172 laporan oleh mahasiswa, 1 laporan oleh dosen, dan 1 laporan oleh staf (Tirto 2020). Laporan ini tentu hanya puncak gunung es, sebab berdasarkan data Kemendikbud, terdapat 4550 perguruan tinggi dengan lebih dari 8 juta mahasiswa, artinya potensi tindak kekerasan seksual lebih tinggi dari laporan yang tersedia.

Kondisi ini bukannya tidak disadari oleh pemerintah. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi telah mengeluarkan Peraturan Menteri 30/2021 tentang pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di pendidikan tinggi. Titik masalahnya terletak pada asumsi bahwa semua perguruan tinggi memiliki sumber daya dan dinamika sosio-kultural yang sama. Hal ini menjadi titik krusial, sebab tidak semua memiliki sumber daya, kompetensi, kapabilitas, dan komitmen yang sama untuk mengimplementasikan Permen tersebut.

Merujuk pada persoalan yang ada, Gender Studies Forum akan membongkar lapisan demi lapisan persoalan kekerasan seksual di pendidikan tinggi. Secara khusus, forum mencoba menjawab sejumlah pertanyaan fundamental: mengapa kasus kekerasan seksual selalu terjadi? Apakah agama, kebijakan negara, status sosial, afiliasi politik, politik identitas, atau bahkan orientasi seksual memainkan peran penting dalam mempromosikan kekerasan seksual? Bagaimana komitmen semua pihak dalam mencegah dan menangani kekerasan seksual? Bagaimana mekanisme pencegahan dan penanganan terbaik? Sejauhmana efektivitas implementasi Permen dalam mencegah dan mengangani kasus-kasus kekerasan? Mengapa kampus cenderung lamban dalam mengambil inisiatif? Apakah Permen ini mampu melindungi kelompok marjinal dan penyandang disabilitas? Bisakah kita mendefinsikan ulang keadilan restoratif?

Gender Studies Forum 2022 akan memiliki delapan topik: (1) Menyoal komitmen stakeholder dalam kekerasan seksual di kampus, (2) Jalan panjang perjuangan regulasi kekerasan seksual, (3) Menyoal posisi agama dan (ke)budaya(an) sebagai dalih pembenar kekerasan, (4) Menndefinisikan ulang keadilan restoratif, (5) Memastikan keselamatan korban dan saksi, (6) Memastikan hak penyandang disabilitas, (7) Suara siapa? Kepentingan siapa yang dibawa?, dan (8) Kurikulum anti kekerasan seksual

Gender Studies Forum ini adalah forum diskusi dan berbagi. Dengan membongkar semua lapisan, mitos dan fakta, serta hambatan dan peluang, Forum ini akan membuka ruang diskusi bagi semua orang yang percaya bahwa keadaban bangsa dimulai dari satu titik awal: merdeka dari kekerasan seksual.

Forum ini terselenggara atas kerjasama antara FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta, FH Universitas Indonesia, Pusat Kajian Wanita dan Gender Universitas Indonesia, FISIP Universitas Bengkulu, FISIP Universitas Lambung Mangkurat, dan Droupadi. Forum ini didukung sepenuhnya oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, LLDIKTI 3, Atiqoh Noer Alie Center, dan Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial.

Conveners untuk Gender Studies Forum tahun ini adalah Khaerul Umam Noer (Universitas Muhammadiyah Jakarta), Titiek Kartika (Universitas Bengkulu), Lidwina Inge Nurtjahyo (Universitas Indonesia), dan Varinia Pura Damaiyanti (Universitas Lambung Mangkurat).

Forum ini terbuka untuk umum. Kami menyediakan layanan Juru Bahasa Isyarat sepanjang program. Silahkan mendaftar pada formulir di bawah. Mohon diingat, forum ini akan dilaksanakan selama dua hari penuh. Seluruh hasil diskusi dalam forum ini akan dipublikasikan dalam buku yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.